Wednesday, 2 July 2014

Rindu Media Proaktif

Adanya pesta demokrasi sekali dalam 5 tahun, menimbulkan nuansa berbeda dimana pun itu termasuk "Media". Mulai dari tv nasional, koran nasional maupun lokal, dan tentunya sosial media. Tentunya para pemilih berasal dari berbagai kalangan mulai dari usia muda-tua, ekonomi menengah ke bawah atau keatas, anak-anak muda intelektual, dari ibu rumah tangga hingga elit-elit politik. Tidak semua pemilih mengenal, mengerti tentang Pemilihan Presiden Indonesia ini apalagi tentang politik. Saya pribadi pun buta politik, kadang ingin share sesuatu di sosial media tentang PEMILU ini tapi akhirnya melangkah mundur  tak ada ilmu disana. Tapi saya menulis karena peduli. Peduli dengan Indonesia, untuk itu saya ingin Indonesia memilih Pemimpin yang mampu membawa Indonesia menuju kesejahteraan dalam bidang apa pun. Saat nanti anak-anak Indonesia ingin memperoleh pendidikan yang layak, maka mereka akan mendapatkannya tanpa mengemis kepada Jerman, Jepang, Malaysia untuk disekolahkan. Saat para pengusaha tempe butuh kedelai, maka ia akan mendapatkannya dari bumi pertiwi, hasil keringat petani Indonesia, tanpa harus meminta kedelai dari negara luar dengan harga yang mahal. Saat kami ingin beras, maka kami akan mendapatkannya dari uang kantong kami sendiri tanpa perlu meminjam uang dari sana sini. Saat minyak bumi menjadi patokan harga-harga sembako dan lainnya, maka harganya menjadi sangat terjangkau oleh kami rakyat-rakyat kecil. Anak-anak Indonesia memang pintar tapi otak mereka butuh nutrisi juga untuk bekerja, mereka harus dalam keadaan kenyang setiap malamnya bukan karena makan ubi rebus tapi karena mereka memakan makanan penuh nutrisi, lauk-pauknya, susu. Membangunkan kembali "Macan Asia" sudah terlalu lama kita tertidur. Kapan bangun? Ya, sekarang saatnya bersama Bapak Probowo-Hatta.
Media menjadi salah satu tempat paling berpengaruh bagi para pemilih. Sayangnya, beberapa chanel tv nasional tidak proaktif, tidak netral, mematikan cara berpikir. Lalu bagaimana nasib Ibu-Bapak kami yang lugu yang akan meng-iya-kan apa yang diberitakan. Mungkin, para intelektual mampu menyaring berita dan memilih pemimpin yang tepat. Tapi bagaimana nasib Ibu-ibu kami yang menggunakan perasaannya dalam memilih, bapak-bapak kami yang percaya sekali dengan berita dari tv nasional ini, muda-mudi yang sekedar ikut-ikutan idola mereka yang mendukung salah satu capres, suara mereka sangat berpengaruh dalam PEMILU ini, lalu bagaimana cara membuka mata mereka?tentunya dengan "Media Proaktif yang Mencerdaskan" tapi sayangnya saluran tv nasional yang terpercaya saat ini tidak proaktif hanya menampilkan kebaikan-kebaikan saja dari Bapak Capres ini dan memberitakan hal-hal buruk saja dari Bapak Capres itu. TVRI kalah pamor dari tv-tv swasta lainnya. Sayang sekali mereka dimiliki oleh elit politik yang lupa tugas mulia dari media yang harusnya transparan dan netral. Harusnya mereka yang mengaku sebagai pers tetap menjunjung tinggi nilai ini, apa salahnya melawan pimpinan yang khilaf ? tidak apa-apa kan daripada ratusan juta rakyat Indonesia teracuni berita-berita tidak sehat. Sepertinya nasionalisme kaum pers kini telah terkikis karena kepentingan mereka sendiri. Mereka tak semulia dulu lagi.
Ini adalah fenomena yang terjadi saat ini, di bumi pertiwi Indonesia-ku tercinta. Saya berharap pada Bapak Probowo-Hatta mampu mengembalikan kesucian dari media. Menjadikan mereka kembali sebagai tempat bagi kami rakyat kecil melihat fakta yang terjadi di tanah pertiwi Indonesia. Saya percaya pada Capres nomor urut 1 Bapak Probowo-Hatta. Jangan sia-sia kan kepercayaan kami, Pak
( Suara kecil, rakyat kecil)
#PrabowoHatta #SelamatkanIndonesia #IndonesiaSatu

No comments:

Post a Comment